Algoritma Bradikardi ACLS terbaru

0
12

Algoritma bradicardia sering dipakai pada penanganan bradikardi atau denyut jantung lambat kurang dari 60 kali/menit, baik dengan gejala (simptomatis) dan tanpa gejala (asimptomatis). Bradikardi didefinisikan sebagai denyut jantung seseorang < 60 kali/menit dan sering memicu gejala bila denyutnya < 50 kali/menit. Denyut jantung normal seseorang dewasa 60-100 kali/menit. Apabila kurang disebut dengan bradikardi, sedangkan bila lebih disebut dengan takikardia.

Baik bradikardi dan takikardia harus membutuhkan penanganan segera agar tidak terjadi perburukan. Bradikardi tanpa gejala klinis sering tidak memerlukan terapi, tetapi bradikardi dengan perubahan irama seperti pada AV blok derajat 2 mobits II dan AV blok terajat 3, sangat memerlukan tatalaksana, karena sangat mengancam jiwa.

Tanda dan gejala Bradikardi menurut ACLS, diantaranya:

  1. Sesak nafas
  2. Nyeri dada
  3. Kepala pusing dan penurunan kesadaran
  4. Lemah, lesu, pingsan, dan perasaan melayang.
  5. Hipotensi (tekanan darah menurun) dan atau terjadi syok
  6. Edema paru
  7. Akral dingin dengan CRT (capillary refill time) lebih dari 2 detik dan urin output sedikit.

ALGORITMA BRADIKARDI ACLS

1. Nilailah kesesuaian klinis pasien, denyut biasanya kurang dari 50 kali/menit jika bradiritmia.

2. Idenfikasi dan atasi segala penyebab:
a. Pertahanan patensi jalan nafas, bantu nafas jika perlu
b. Terapi oksigen (jika hipoksemia)
c. Identifikasi irama, lakukan monitoring tekanan darah dan saturasi oskigen
d. Pasang jalur Intra Vena
e. EKG 12 sadapan, jangan menunda terapi.

3. Apakah bradiritmia menyebabkan HIMEN YOGJA:
a. HIpotensi?
b. MEntal Status?
c. Nyeri dada Iskemik?
d. sYOk
e. Gagal Jantung Akut?

4. Jika tidak, lakukan monitoring dan observasi.

5. Jika Iya, berikan ATROPIN. Jika atropin tidak efektif, lakukan PACU JANTUNG TRANSKUTAN atau INFUS DOPAMIN atau INFUS EPINEFRIN. Dilanjutkan dengan konsultasi ke Dokter Ahli Jantung dan Perimbangkan PACU JANTUNG INTRAVENA

Algoritma BRADIKARDIA ACLS
Algoritma BRADIKARDIA ACLS

Keterangan:

  • ATROPIN IV : dosis pertama 0,5 mg bolus, ulangi setiap 3-5 menit. Maksimal 3 mg.
  • DOPAMIN IV drip : dosis 2-20 mcg/kg/menit
  • EPINEFRIN IV drip : dosis 2-10 mcg/kg/menit

BILA TERJADI BRADIKARDI DENGAN AV BLOK DERAJAT 2 MOBITS II DAN AV BLOK DERAJAT 3

  1. Berikan SULFAT ATROPIN 0.5 mg intravena, monitor EKG untuk peningkatan denyut jantung. Bila tidak terdapat peningkatan denyut jantung, dapat diulangi pemberian SULFAT ATROPIN 0,5 mg hingga terdapat respon peningkatan denyut jantung dengan dosis maksimal 3 mg.
  2. Apabila SULFAT ATROPIN sudah dosis maksimal 3 mg dan belum terdapat respon peningkatan denyut jantung maka dapat diberikan obat lain seperti dopamin 2-20 mikrogram/kgbb/menit atau epinefrin 2-10 mikrogram/menit.
  3. Apabila tidak ada perbaikan, segera konsultasikan ke ahli jantung dan pemasangan pacu jantung intravena.
  4. Apabila EKG menunjukkan AV blok derajat 2 mobits II, atau AV blok derajat 3, maka segera pasang PACU JANTUNG TRANSKUTAN hingga menunggu pemasangan PACU JANTUNG INTRAVENA.
  5. Cari, identifikasi dan atasi penyeabab, diantaranya: hipoksia, hipovolumia, hidrogen ion (asidosis), hiponatremia, hipo/hiperkalemia, tampodade cordis, tension pneumothorax, toksin, trombosis coroner, dan trombosis pulmonal.

CATATAN OBAT ALGORITMA BRADIKARDI

  • Pemerian Sulfat atropin dengan dosis dibawah 0,5 mg dapat mengakibatkan efek paradoksal berupa menurunkan denyut jantung, sehingga berhati-hatilah. Pemberian atropin sulfat ini tidak menunda pemasangan pacu jantung baik transkutan dan intravena apabila pasien dengan bradikardi dengan gangguan fungsi hemodinamik.
  • Dopamin pada dosis rendah akan meningkatkan denyut jantung (inotropik), sedangkan pada dosis tinggi >10 mcg/kgBB/menit akan menyebabkan vasokontriksi. Pemberian dopamin disesuaikan efek klinis dengan titrasi rentang dosis 2-20 mcg/kgBB/menit.
  • Epinefrin digunakan pada bradikardi simptomatis dengan hipotensi, setelah atropinisasi gagal. Dosisnya 2-10 mcg/kgBB/menit dengan titrasi hingga denyut meningkat.
  • Dapat digunakan juga isoproterenol, dengan dosis 2-10 mcg/kgBB/menit yang dapat meningkatkan denyut jantung.

Referensi:
Tim Penulis, 2018. ACLS Indonesia
Tim Penulis, 2018, BCLS Indonesia
AHA and ECC. 2015. AHA guideline for CPR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here