Cubital Tunnel Syndrome : Anatomi, Pemeriksaan dan Tatalaksana

Spesial Test Cubital Tunnel Syndrome pada Orthopedi

Cubital tunnel syndrome adalah jepitan yang terjadi pada nervus ulnaris yang berada di elbow (siku). Jepitan atau entrapment ini akan memicu kompresi dan iritasi dari nervus ulnaris. Nervus ulnaris adalah salah satu syaraf besar di tangan yang berasal dari cervical C8 dan Thoracal 1 (C8-T1), dari pleksus brachialis.

Kompresi tersering berada di belakang elbow. Gejala seperti kesemutan, dan kebas pada tangan dan jari menjadi ciri khas kelainan ini. Pada kebanyakan kasus, gejala dapat ditangani tanpa pembedahan, seperti aktifitas latihan tangan dan pemasangan brace. Jika tindakan non pembedahan tidak berhasil, atau terjadi kelemahan otot maka disarankan dilakukan tindakan pembedahan.

insidensi ini terjadi pada 30 orang dari 100.000 orang setiap tahunnya dan nomor 2 kejadian paling sering kompresi pada ekstermitas atas tangan dan lengan. Laki-laki lebih sering dibanding perempuan.

Tinjauan Anatomi pada Kasus Cubital Tunnel Syndrome

Pada Elbow syaraf ulnaris melewati terowongan yang disebut dengan cubital tunnel yang berjalan di sisi medial elbow. Syaraf ulnaris berjalan di sulcus nervi ulnaris di bawah medial codyle dari humerus.

Cubital tunnel dibentuk oleh Ligamentum Osborne yang disebut juga dengan retinaculum cubital. Ligamen ini berjalan di epikondilus medial ke olecranon dan berlanjut ke fascia yang menghubungkan ulna dan radius dari fleksor carpi ulnaris. Dasar dari cubital tunnel dibentuk oleh ligamentum Collateral medial (MCL) dan kapsul dari elbow.

Batas-batas dari Cubital Tunnel:

  1. Batas atas : Ligamentum osborne dan Fascia Fleksor Carpi Ulnaris
  2. Lantai : Posterior band dan transverse dari MCL dan kapsul sendi elbow.
  3. Dinding : Epikondilus medial dan olecranon.
Baca juga :   Penyakit Blount (Tibia Vara) pada Anak, Ketahui Penyebab dan Gejalanya

Nervus ulnaris secara maksimal terkompresi antara ligamentum Osborne dan MCL pada sudut 135 derajat ketika elbow difleksikan, yang memicu penurunan ketinggian tunnel dan curvatura sagital.

Pada distal nervus ulnaris berjalan di lateral Fleksor carpi ulnaris dan medial arteri ulnaris melewati guyon canal yang mana kompresi pada guyon canal memicu Kelainan Guyon canal Syndrome.

Tanda dan Gejala Cubital Tunnel Syndrome

Kompresi pada nervus ulnaris dapat berupa defisit motorik dan sensoris. Gejala dimulai dari parastesia dari sensoris nervus ulnaris, meliputi jari kelingking dan setengah medial jari manis (jari IV dan V). Jika semakin memberat, terjadi kelemahan otot dan atropi otot. Selain itu nyeri juga dirasakan pada elbow sisi medial yang disebabkan peradangan (inflamasi) pada sekitar jepitan.

Terdapat Klasifikasi McGowan dan Dellon pada Cubital Tunnel Syndrome

  1. Tipe 1 : subjektif gejala sensoris tanpa hilangnya 2 poin sensibilitas atau atropi otot
  2. Tipe 2A : gejala sensoris dan kelemahan memegang tanpa atropi
  3. Tipe 2B : Gejala sensoris, atropi dan kelemahan otot intrinsik < 3
  4. Tipe 3 : Atropi otot profunda dan gangguan sensoris

Ketika elbow di tekuk di fleksikan, maka gejala dapat semakin terasa. Gejala semakin berat bila ditemukan Clumsy hand, kelemahan pada jari manis dan jari kelingking. Pasien juga tidak dapat memegang pensil dan membuka botol.

Gejala yang sering muncul:

  1. Tenderness dna nyeri
  2. kesemutan dan kebas jari ke IV dan V
  3. Kelemahan otot
  4. tidak dapat membuka botol dan memegang pensil
  5. claw deformity karena kelemahan otot fleksor digitorum profundus.
Baca juga :   Cara Penggunaan Supositoria Rektal : Step-by-step

Pemeriksaan Cubital Canal Syndrome

Inspeksi dan palpasi pada atropi otot, clawing pada jari kelingking dan manis, atau subluksasi nervus ulnaris dan pemeriksaan gerakan elbow diperlukan. Sensasi sensoris diperiksa juga di jari ke IV dan V.

Otot Tes intruksi Positif bila ada
Fleksor Carpi Ulnaris Fleksi wrist pada sisi ulnar terhadap tahanan kelemahan
Fleksor Digitorum Profundus Fleksi Distal Interphalang (DIP) dari jari kelingking terhadap tahanan Kelemahan
Abductor Digiti Minimi Abduksi jari kelingking terhadap tahanan Kelemahan
Dorsal Interoseus 1 Abduksi jari telunjuk terhadap tahanan Kelemahan
Adductor Policis Memegang kerts dengan jempol dan jari manus Froment sign : Interphalang (IP) joint akan fleksi
Palmar interoseus 3 / lumbricalis digiti V adduksi semua jari Wartenberg sign : Jari kelingking mulai relatif abduksi dibanding jari lain.

 

Tes Profokatif seperti Tinel’s sign dan Elbow Fleksion test dapat dilakukan. Tinel Sign dilakukan dengan mengetuk syaraf di cubital tunnel dan menghasilkan sensasi kelistrikan, dan kebas pada area sensoris syaraf ulnaris.

Elbow Fleksion test, pasien ful memfleksikan elbow  memicu cubital tunnel menjadi sempit dan terjadi jepitan di syaraf ulnaris. Adapun Spesial Test yang dapat diperiksa, diantaranya:

  1. Froment Sign : Memegang kertas dengan jempol dan jari telunjuk dengan kertas ditarik pemeriksa. Normalnya dapat memegang, tidak normal bila ada Kelemahan adduktor policis  yang diinervasi nervus ulnaris.
  2. Jeanne Sign : Jempol dan jari telunjuk membentuk OK sign. Positif bila, tidak dapat hiperekstensi metacharpophalangeal jempol, adduksi jempol. Kompensasinya oleh adduktor policis brevis (n. ulnaris).
  3. Wartenberg Sign : Pasien diminta membuka kelima jari, dan memintanya  adduksi. Ketika jari ke V (kelingking) tidak bisa, maka wartenberg positif. Jari V relatif abduksi dibanding jari lain.
  4. MasseSign : kehilangan hipotenar dan arkus metacarpal palmar flattening.
  5. Pollock Sign : tidak bisa fleksi DIP joint dari jari kelingking dan jari manis.
Baca juga :   Pasang Ring jantung : Prosedur PCI (Percutaneous Coronary Intervention)

Tatalaksana dan Pengobatan Cubital Tunnel Syndrome

Pada non operatif, dapatidilakukan modifikasi aktifitas dan pemasangan splint yang membuat elbow ekstensi ketika malam hari. Dilakukan bila gejala ringan dan efektif sekitar 50% kasus. Teknik Bracing ini dnegna ekstensi 45derajat dengan posisi lengan bawah rotasi natural.

Pada tatalaksana operatif, dilakukan dekompresi pada nervus ulnaris. tatalaksana operatif diantaranya:

  1. Ulnar nerve decompression without Transposition : dilakukan ketika nonoperatif gagal dan belum terjadi derevasi motoris. Sekitar 80-90% hasilnya baik. Sekitar 4 cm incisi di antara olecranon dan epicondilus medial dengan membebaskan dibagian distl ligamen osborne dan fascia luar dan dalam dari Fleksor carpi ulnaris.
  2. Ulnar Nerve Decompression and Anterior Transposition : dilakukan pada atlit melempar, pasien dengan tumor, osteofit atau hipertropik tulang. Dilakukan dengan eksisi septim intermuskuler medial.
  3. Medial Epicondylectomy : dilakukan ketika terdapat gejala subluksasi nervus ulnaris dan pasien kurus dengan jaringan subkutan tipis. Risiko terhadap kerusakan ligamen collateral medial ulnar dapat terjadi. Dekimpresi ini dilakukan dengan osteotomy dari epicondilus medial, menjaga insersi dari medial collateral ligamen dan disertai repair dari periosteum.

Referensi:
Andrew, K et al. 2018. Cubital tunnel syndrome: Anatomy, clinical presentation, and management
Orthobullets. 2023. Cubital Tunnel Syndrome

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *