Limfadenitis TB (Skrofula) : Gejala, Gambar dan Pengobatan

0
295

Limfadenitis TB atau skrofula adalah kondisi yang disebabkan bakteru tuberkulosis dengan gejala pembesaran dan peradangan pada jaringan limfonodi di leher. TB atau tuberkulosis merupakan infeksi yang serius yang angka kejadiannya di Indonesia masih sangat tinggi dan membutuhkan pengobatan rutin OAT hingga 6 bulan atau lebih. Limfadenitis merujuk pada peradangan pada limfonodi, bagian dari imunitas tubuh. Skofula sering ditemukan pada infeksi TB berupa benjolan di leher.

Penyebab Limfadenitis TB (Skrofula)

Mycobakterium tuberulosis adalah bakteri tahan asam penyebab skrofula. Bakteri ini adalah penyebab utama infeksi tuberkulosis. Anak menjadi batuk lebih dari dua minggu, kadang berdahak, diserati gejala lain seperti diare, mual muntah, penurunan berat badan, infeksi candidiasis dan kadang disertai infeksi HIV.

Faktor risiko infeksi bakteri ini adalah seseorang dengan penurunan imunitas tubuh (imunokomromise). Skrofula jumlahnya diestimasikan sebanyak 1/3 dari semua kasus TB. Pada pasien harus membutuhkan pengobatan tuntas karena jangan sampai terjadi resisten (MDR TB). Pasien dengan infeksi penyerta HIV, harus menerima terapi antiretroviral untuk mempercepat respon pengobatan TB.

Gejala Limfedenitis TB (Skrofula)

Skrofula sering terjadi dengan pembengkakan dan lesi pada sisi leher. Biasanya limfonodi membengkak, terasa benjolan kecil bulat. Nodul tidak nyeri dan hangat ketika disentuh. Lesi dimulai membesar, dan mungkin terdapat pus (nanah) atau cairan dalam beberapa minggu setelahnya. Adapun gejala tambahan dari limfadenitis TB ini, yaitu:

  • Demam
  • Berkeringat malam hari
  • Penurunan berat badan dengan penyebab tidak jelas
  • Lemah lesu

Skrofula jarang terjadi pada negara yang terbebas dari infeksi tuberkulosis. Tuberkulosis angkanya masih tinggi pada negara berkembang, termasuk Indonesia.

Pemeriksaan Limfadenitis TB (Skrofula)

Jika pada pasien dicurigai ada infeksi TB, maka pemeriksaan PPD (Purified protein derivative) dilakukan. Tes ini disebut juga dengan Uji TUBERKULIN atau Tes Manthoux. Tes ini dengan menyuntukkan beberapa jumlah PPD dibawah kulit. Jika kuman TB ada dalam tubuh, maka terdapat indurasi (peningkatan area kulit beberapa milimeter). Meskipun bakteri dapat membentuk skrofula, tes ini akurasinya tidak sepenuhnya 100%.

Baca juga :   Hepatitis Fulminan : Gejala, Penyebab dan Pengobatan

Diagnosis dari skrofula dengan Biopsi cairan dan jaringan yang meradang pada area leher dan sekitarnya. Kebanyakan kasus membutuhkan Fine Needle Biopsi (FNAB). Pemeriksaan radiologis juga dilakukan, yaitu X-ray (Rontsgen Dada) untuk menentukan masa di dada dan di leher. Ini penting membedakan skrofula dengan jaringan kanker.

Pemeriksaan darah dilakukan tapi tidak spesifik untuk mendiagnosis skrofula. Pemeriksaan HIV wajib dilakukan terutama pada pasien yang dicurigai terinfeksi HIV, untuk menentukan ada infeksi penyerta lain selain TB atau tidak termasuk memeriksa infeksi candidiasis.

Pengobatan Limfadenitis TB (Skrofula)

Skrofula adalah infeksi serius dan membutuhkan pengobatn beberapa bulan. Antibiotik diresepkan 6 bulan atau lebih (OAT). Dua bulan pertama dapat diberikan obat : Rifampicin, isoniazid dan ethambutol. Setelah itu, isoniazid dan rifampicin diberikan empat bulan setelahnya.

Selama pengobatan ini, limfonodi dapat membesar dan terbentuk peradangan baru. Ini disebut dengan reaksi paradoksikal. Steroid oral dapat diberikan untuk mengurangi peradangan pada lesi skrofula. Tindakan pembedahan mengambil jaringan setelah pengobatan TB dilakukan. Bakteri dapat membentuk fistula, dimana terbentuk lubang di jaringan limfonodi dan gejalanya dapat memburuk.

Untuk Komplikasi, seseorang dengan TB dapat menyebar ke tempat lain, yaitu tulang, otak, dan jaringan lain atau disebut dengan TB ekstra pulmo. Pengobatan harus tuntas, agar kuman tidak resisten dan terbentuk MDR TB (Multi drug resisten TB).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here